Thursday, August 7, 2014

Mempublikasi Kemarahan

Batang jerami yang bertebaran, mengikis sedikit horizon yang tampak
Bau serangga yang memudar, menjelang senja yang kian redup
Bisikan hati ini mengemas suasana serba berseri
Jerami yang terbakar kian memanas, kepulan jelaga membentuk mendung
Langitpun hangat, mengyoyak langit, meratapi asap yang kian membumbung
Kita seksama berjalan di atas air, marah kepada lautan dan tetap menginjak bumi
Apa bedanya atas dan bawah? Tatkala hanya dipengaruhi oleh gravitasi
Persepsi hati, ideologi, dan otak yang berseteru
Apakah dimensi di masa depan?
Ketika rencana besar ini akan menjadi yang terhebat
Apa yang harus dimulai jika kita ingin menjadi ahli tata negara?
Kebetulan yang selalu kebetulan, kemarahan ini akan dikemas secara masif
Dibungkus dengan kertas harapan, harapan sejarah yang terus melupakan
Kemarahan dan dendam ini akan menjadi cetak biru
Membingkai pemberontakan dengan kebohongan
Diiringi deru genderang pendusta
Dan pada akhirnya realitas harus diciptakan
Mengubah orbit bulan, mengubah permainan kartu, mengubah konstitusi
Kita selalu termakan oleh kebodohan pakar rasionalitas
Atas nama bahasa, semua tak bermakna
Inilah sabda waktu kepada anti materi


Kendal, 8 Agustus 2014

Thursday, April 3, 2014

Cara Memandang Dunia

Takkan ada yang bisa hentikan langkahku
Masa lalu yang kutinggalkan
Berharap memiliki ambisi untuk menaklukkan yang sangat dibenci
Pengulangan yang terus menerus terjadi
Takkan ada artinya suatu karya tanpa pesan
Selain itu tak ada yang membuatku terkesan
Bagaimana hal itu ditunjukkan oleh aku yang memandang dunia
Sesekali kita harus membuktikan keburukan kita
Terlalu banyak kepura-puraan dan ketidakadilan
Siapa yang menciptakannya, pasrah saja semuanya sama saja
Atas nama untung yang kau dekati dan rugi yang tak diminati
Atas nama gaji yang dinanti dan hati yang terus tersakiti
Kita terlalu perasa mungkin, kita punya tubuh dan daging yang didalamnya takkan terkoyak
Maukah kau untuk berpikir merugi
Silakan kau coba dulu, jika tak berminat bukan ini hal yang buruk
Aku tak ada niatan menjebakmu


Depok, 30 Maret 2014

Kau Yang Minum Anggur

Pagi tak lagi menggerogoti mimpi yang terpupuk
Ketika dibangunkan dengan paksa dalam intensitas tinggi
Bersiap mendisiplinkan diri dalam barisan derap langkah moda transportasi
Tak bisakah kita berhanti sejenak
Sejarah yang diayunkan dalam segala pembenaran
Menuju keruntuhan karena kita dipaksa menyesuaikan
Sebuah gagasan otentik jika kita bersabar
Kita bukanlah bagian dari sejarah
Bahkan bulan lebih dahulu lahir ketimbang bumi
Musuh kita bukan hanya perseorangan ataupun organisasi
Sistem lah monster utama
Sudahlah, kau duduk sejenak menikmati segelas anggur untuk menikmati pengangguran itu.


Depok, 26 Maret 2014

Monday, March 24, 2014

Darah-darah Pemberontak

Imaji memberontak, berharap semuanya berubah
Aku menginginkan semuanya musnah
Aku menginginkan semua sesuai dengan keinginanku
Dunia tanpa pekerjaan
Tak ada orang yang kesusahan mencari uang
Yang dippikirkan hanyalah cara menjalani hidup
Dunia tanpa kesibukan
Kesibukan tergantung dari diri sendiri
Orang yang menganggur pun dibayar
Aku memberontak atas kemuakan ini
Bersabar demi makanan pokok
Menjadikan hidup bukanlah menjadi kebutuhan pokok
Semua tidak terkenang
Tak percaya dengan seleksi, semuanya berhak dikenang
Yang terkenang adalah pendusta
Tak lebih dari sebuah debu berterbangan


Depok, 24 Maret 2014

Saturday, November 2, 2013

Merekam Jejak

Secerah harapan pagi, semisterius tentang harapanmu
Mencari arah namun pasti, kau kan kudapatkan
Bila kita bersama, kita kan berusaha
Kita kan mencari penghidupan demi anak kita
Wahai istriku kelak, inilah aku yang merindukanmu
Apa harapmu adalah secercah harapan pagi dariku
Mari kita hidup layaknya orang tua kita
Kita besarkan anak dan sekolahkan yang tinggi
Setinggi apa yang tidak kau pikirkan
Kau berharap semua kan sempurna
Bagiku, tak ada yang sempurna
Kita sudah terlalu sempurna untuk ini
Karena waktu telah menempatkan apa yang seharusnya diruangkan
Kelak, akan kubuatkan sarapan pagi untukmu istriku

Depok, 3 November 2013

Friday, November 1, 2013

Librisida

Kau kuasai karena kau tercatat dalam memori
Dalam gua dan batu rosetta, kau tunjukkan seberapa congkaknya dirimu
Aku tahu, bangsaku hanyalah sekumpulan domba yang tersesat
Pikirmu, lalu kuseruduk
Tidak perlu lembaran lontar dan tulang unta
Atau lembah-lembah subur dalam manuskrip peradaban dalam buku sejarah
Senjakala manuskrip yang dihancurkan, kembali demi yang tidak pernah kami ketahui
Kami hanya berasumsi, kami dendam, kami mencinta
Semudah itu kami mencoret kanvas
Pada dasarnya pikiran manusia adalah kanvas yang abadi
Bakarlah semua buku itu
Maka akan kubakar seluruh alam bawah sadarmu

Depok, 2 November 2013

Friday, October 25, 2013

kritik, kritik, kritik

Mulailah mencari sesuatu yang memiliki tujuan ekonomi dan kekuasaan
Tergoda akan buaian nafsu
Apakah semuanya harus seperti ini?

Depok, 26 Oktober 2013